Black Serpent Demon kembali datang menyerang dengan lebih marah, tetapi Jelita kali ini tidak bisa diam melihat Li Wei dalam bahaya. Dia menarik tangan Li Wei untuk menghindar dan membawanya ke arah Komandan Jiang.

Sementara itu, ular yang berusaha menyerang Li Wei lagi-lagi bersikap aneh. Tiba-tiba saja, ular itu mundur ke belakang dengan cepat, seolah tertarik oleh sesuatu. Komandan Jiang dan para prajurit memandang ke arah ekor ular tersebut, tetapi tidak ada apa-apa di sana.

"Terima kasih, Yun Qing," kata Li Wei."Aku memiliki trauma terhadap ular."

"Nona Li Wei, fokuslah. Musuh di depan kita sangat kuat, lawan ketakutanmu," kata Komandan Jiang, memahami ketakutan Li Wei terhadap ular.

Sementara itu, Lynx, yang berdiri di belakang mereka, hanya tersenyum tipis. Setiap kali Komandan Jiang dan yang lainnya berada dalam bahaya, dengan kecepatannya yang luar biasa, Lynx akan menarik ekor Black Serpent Demon tepat sebelum serangannya mengenai sasaran tanpa ada yang mengetahui.

WUSSHH!

Setiap kali ular iblis itu mencoba menyerang, tubuhnya secara misterius tertarik ke belakang.

Black Serpent Demon semakin marah. Ia mengeluarkan desisan tajam dan kembali menyerang dengan taring dan ekornya, tetapi hasilnya tetap sama—setiap kali ia hampir mengenai targetnya, tubuhnya tertarik oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Komandan Jiang dan Li Wei, yang awalnya pasrah dengan nasib mereka, kini mulai memperhatikan sesuatu yang aneh.

"Kenapa serangannya selalu meleset?" gumam Li Wei bingung.

Sementara itu, Jelita, yang sudah memahami kekuatan Lynx, tersenyum kecil. "Dia pasti yang melakukannya," batinnya.

Black Serpent Demon semakin kalap. Ia menghantam tanah dengan ekornya, menciptakan lubang besar di sekitar mereka. Namun, sekali lagi, saat ia hendak menyerang, tubuhnya tersentak ke belakang.

"Aku harus mencari cara agar bisa mengalahkannya tanpa dicurigai." batin Lynx.

Kali ini, saat ular tersebut mengamuk lagi dan ingin menyerang komandan Jiang, Lynx sengaja memperlihatkan dirinya melompat ke arah belakang dan segera menarik ekor Black Serpent Demon dengan susah payah, seolah-olah dia sangat kesulitan menariknya.

SRAKK!

Black Serpent Demon mengeluarkan raungan marah saat menyadari bahwa makhluk kecil yang berdiri di sana telah mempermainkannya selama ini. Matanya menyala penuh amarah, lalu ia langsung melesat mengejar Lynx.

"Xiao Ling!!" teriak Li Wei panik. Ia mengira Lynx akan binasa dalam satu serangan.

"Xiao Ling!" seru Jelita merasa agak khawatir, tapi ekspresinya tetap tenang. Ia tahu bahwa Lynx tidak akan dalam bahaya.

Komandan Jiang yang ingin menolong hanya bisa menggertakkan giginya. Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk bergerak akibat benturan tadi.

Sementara itu, Lynx berlari dengan kecepatan yang cukup untuk tetap berada di depan Black Serpent Demon, tetapi tidak terlalu cepat agar ia tetap bisa dikejar.

"Wuuuh, hampir saja!" teriak Lynx pura-pura ketakutan, melompat ke atas batu, lalu berlari ke arah pohon.

Black Serpent Demon semakin marah. Ia melesat lebih cepat, membuka mulutnya lebar, siap menelan Lynx dalam satu gigitan.

Namun, tepat saat monster itu menerjang, Lynx tiba-tiba berhenti. Dengan satu gerakan sederhana, ia menangkap kepala ular itu dengan tangan kosong.

"Hsh..." Black Serpent Demon tampak kebingungan.

"Kamu berani ya muncul didepanku dan mencoba menyerangku..." Kata Lynx.

Ular itu berusaha berontak, namun tubuhnya tidak bisa digerakkan. Dia semakin gelisah, takut.

SRAKK!

Dalam hitungan detik, Lynx mengangkat tubuh besar itu, lalu dengan santai membelitkannya ke beberapa batang pohon besar, mengikat tubuhnya dengan kuat.

"Bukankah kau suka melilit?" kata Lynx santai, menepuk kepala ular itu. "Nah, sekarang kau bisa menikmati bagaimana rasanya melilit dan terjebak."

Lynx menyalurkan sedikit kekuatannya ke pohon agar menjadi kuat tidak dapat dihancurkan, lalu Lynx mengikat seperti tali simpul tubuh ular tersebut.

Black Serpent Demon menggeram dan mencoba bergerak, sebagai hewan dengan tingkat demon beast, seharusnya dia bisa menghancurkan pohon itu dengan mudah, namun lilitan tubuhnya di pohon mengunci kekuatannya. Sekuat apapun dia berusaha menghancurkan dan melepaskan diri, tetap tidak berhasil, tubuhnya benar-benar terjepit oleh lilitannya sendiri. Ia berusaha mengeluarkan kekuatan, tetapi semakin ia melawan, semakin erat ia terjerat.

Matanya yang merah bersinar mulai dipenuhi ketakutan.

Beberapa saat kemudian, Lynx kembali dengan langkah santai, seolah tidak terjadi apa-apa. "Ular itu tidak akan mengganggu kita lagi," katanya ringan.

Komandan Jiang, Li Wei, dan para prajurit masih belum bisa berkata-kata.

"K-Kamu bilang… apa?" Li Wei mencoba memastikan.

"Ular itu mengejarku, lalu entah bagaimana ia terjerat sendiri di pohon," kata Lynx dengan wajah polos.

Semua yang mendengar hanya bisa terdiam.

Jelita menahan tawa, tahu betul bahwa Lynx hanya bercanda.

"Aku… aku tidak percaya," gumam Li Wei. Ia kemudian me

noleh ke Komandan Jiang, seolah mengharapkan jawaban yang lebih masuk akal.

Komandan Jiang tidak langsung menjawab. Ia mencoba melihat ke arah di mana ular itu terjerat.

"Apakah kamu yakin ular itu terjerat?" Tanya komandan Jiang memastikan.

"Sangat mustahil hal itu terjadi." Kata Li Wei dengan nada tidak percaya.

Lynx mengangkat kedua tangannya ke samping, "Lihat saja sendri agar kalian percaya. Aku pikir akan mati tadi." Lynx berusaha memperlihatkan ekspresi ketakutan.

Jelita berusaha menahan tawa melihat sandiwara yang dilakukan kepala sukunya.

Segera komandan Jiang, Li Wei, Jelita dan semua prajurit mengikuti arah yang ditunjukkan Lynx, Dan memang, Black Serpent Demon terlihat benar-benar terjebak, tubuhnya terjerat erat di antara batang-batang pohon.

"Mustahil…," gumam Komandan Jiang dengan ekspresi tidak percaya.

Li Wei membeku, matanya terbelalak melihat pemandangan itu. "Bagaimana bisa…?!"

Komandan Jiang dan Li Wei saling berpandangan. Mereka tahu betapa kuatnya makhluk itu, tapi sekarang terlihat begitu… tak berdaya.

Li Wei akhirnya bersuara, "Apakah ini… benar-benar kebetulan?"

Lynx hanya tersenyum tipis. "Siapa tahu?"

Komandan Jiang menghela napas panjang. Ia belum bisa memahami apa yang terjadi, tetapi satu hal yang pasti—pemuda bernama Xiao Ling ini bukanlah orang biasa.

Komandan Jiang menatap tajam ke arah Black Serpent Demon yang masih berusaha berontak dalam lilitan tubuhnya sendiri. Meskipun tampak tak berdaya, makhluk iblis seperti itu tak bisa dibiarkan hidup. Jika diberi waktu, ia bisa saja berhasil meloloskan diri.

Tanpa ragu, Komandan Jiang mencengkeram gagang pedangnya lebih erat. Namun, dalam hatinya, ada sedikit keraguan. Ular ini berada di tingkat yang lebih tinggi darinya. Bahkan dengan seluruh kekuatannya, belum tentu pedangnya mampu menembus sisik keras makhluk itu.

"Tidak ada pilihan lain..." gumamnya, lalu menarik napas dalam-dalam.

Ia memusatkan separuh Qi yang tersisa ke dalam pedangnya. Aura tajam menyelimuti bilahnya, membuat udara di sekitarnya bergetar. Setelah memastikan momentum yang tepat, ia mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga.

**SWOOSH!**

Di saat yang sama, tanpa ada yang menyadari, kedua mata Lynx memancarkan dua garis tipis cahaya transparan yang melesat cepat.

**SRAKK!**

Dalam sekejap, kepala Black Serpent Demon terpisah dari tubuhnya. Darah hitam menyembur dari lehernya yang terputus, sementara tubuh raksasanya berkelojotan beberapa saat sebelum akhirnya terkulai lemas.

Komandan Jiang terpaku sesaat, matanya membelalak. Ia berhasil?

Ia menoleh ke pedangnya, seolah tak percaya. Sebelumnya, ia meragukan apakah senjatanya mampu menebas makhluk sekuat ini. Namun, nyatanya, sekali tebasan saja cukup untuk memisahkan kepala monster itu.

Li Wei dan para prajurit yang menyaksikan langsung terdiam. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya suara sorak kemenangan terdengar.

"Komandan Jiang berhasil!"

"Black Serpent Demon telah mati!"

Sorak sorai membahana, menandakan rasa lega yang luar biasa setelah pertarungan sengit itu.

Di tengah kegembiraan itu, hanya Jelita yang memperhatikan sesuatu yang janggal. Ia melihat sekilas ke arah Lynx yang tetap tenang, dengan senyum kecil di wajahnya.

"Lynx..." batinnya.

Jelita tidak melihatnya secara langsung, tetapi entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang lebih dari sekadar tebasan pedang Komandan Jiang. Namun, ia tidak mengatakan apa-apa dan hanya ikut tersenyum.

Sementara itu, Lynx hanya mengangkat bahunya ringan dan berbalik, membiarkan mereka merayakan kemenangan mereka sendiri.

